best joomla templates

Print

Sistem Catur Warna

dalam Ajaran Hindu Dharma

[ Bali Post, Selasa, 30 Mei 1989]

Oleh Ida Bagus Rai Wardhana, S.H.

Memperluas wawasan keberagamaan dengan mengembangkan pikiran ilmiah dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam hal ini ajaran agama Hindu yang tetap bertumpu pada keteguhan iman dan ketakwaan kepada Hyang Widhi, serta selaras, serasi dengan kebudayaan nasional di samping merupakan kewajiban logis bagi kita dalam memuliakan ajaran agama, hal ini juga merupakan kebijaksanaan nasional dalam bidang pembangunan agama.

Dengan demikian agama betul-betul tampak secara nyata menjadi motivator dan dinamisator pembangunan nasional, bukan sebagai kendala atau menghambat modernisasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada hakikatnya agama diturunkan ke dunia, untuk menuntun manusia ke jalan yang baik dan benar dalam menjawab kehendak zaman, sesuai dengan petunjuk-petunjuk-NYA yang tersurat dan tersirat adalam kitab suci agama (Weda).

Hai ini akan bisa terwujud apabila kita dapat memahami secara baik dan benar-benar ajaran-ajaran itu, kemudian dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila petunjuk-petunjuk suci itu tidak dilaksanakan dan tidak menyentuh kebutuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari, petunjuk-petunjuk itu akan menjadi hiasan ungkapan bibir belaka, akan menjadi usang lamat lauin ketinggalan zaman.

Perlu disadari memahami ajaran suci Agama Hindu jauh lebih sulit dari pada menghafal ayat-ayat suci Weda, karena memerlukan Wiweka dan penalaran yang logis.

Sebagaimana kita maklumi ajaran Agama Hindu diturunkan berbarengan dengan peradaban manusia itu sendiri dan baru dikodifikasikan lebih kurang 2500 tahun sebelum masehi, di mana dapat kita bayangkan kadar kecerdasan manusia pada waktu itu sudah tentu budayanya sangat sederhana sekali. Lebih-lebih kemampuan berpikir mereka kepada hal-hal yang abstrak. Weda diturunkan pada masa itu untuk menuntun manusia dapat berbuat baik dan benar juga. Sampai sekarang kita warisi juga untuk menuntun kita ke jalan yang baik dan benar sesuai dengan petunjuk-NYA itu, demikian juga untuk masa mendatang. Agama adalah untuk masa lampau, sekarang dan masa mendatang.

Kesempitan pandangan kita dalam memahami ajaran agama yang penuh kias dan mitologi, bukan berarti kesempitan ajaran agama itu sendiri, seperti dalam usaha kita bersama memahami sistem Catur Warna dalam Ajaran Hindu Dharma deasa ini, apa maksud, tujuan dan manfaatnya, bagaimana pengertian dan perkembangannya serta di mana sumbernya.

Catur Warna

Kata Catur Warna berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata “Catur” berarti empat dan kata “Warna” yang berasal dari urat kata WR (baca:wri) artinya memilih atau memiliki. Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan keterampilan (karma) seseorang , serta kualitas kerja yang memiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Kasatrya, Waisya dan Sudra.

Warna Brahmana, disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan.

Warna Ksatrya, disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitik beratkan pengabdian dalam swadarmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.

Warna Waisya, disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian dan lain-lainnya).

Warna Sudra, disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.

Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Warna cenderung membaur mengarah pada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau turunan darah. Padahal Catur Warna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan turunan darah.

Kasta

Kata Kasta berasal dari bahasa Portugis Caste yang berarti pemisah, tembok atau batas. Timbulnya istilah kasta dalam masyarakat Hindu karena adanya proses sosial (perkembangan masyarakat) yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan pengertian warna ini melahirkan tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang di dalam masyarakat berdasarkan kelahiran dan status keluarganya.

Istilah kasta tidak diatur di dalam kita suci Weda. Kata Kasta itu sendiri dalam bahasa Sansekerta berarti kayu.

Sumber Keterangan Catur Warna

1. Bhagawadgita.

Keterangan yang cukup menarik tentang Catur Warna yang sering dikaburkan dengan kasta dapat kita lihat dalam kitab Pancamo Weda (Bhagawadgita) yang menjelaskan struktur masyarakat berdasarkan warna. Menurut isi dari Bahgawadgita ini pembagian masyarakat menjadi empat kelompok yang disebut Warna itu, terjadi karena pengaruh “guna” yang merupakan unsur pembawaan sejak lahir (bakat).

Dalam hubungan ini dijelaskan sistem warna itu atas dasar pengertian physis.

Di dalam bab Karma Kandanya dijelaskan bahwa dunia aktif (bergerak, bekerja) dan gerak ini disebabkan guna itu sendiri. Ada tiga macam guna dikemukakan yaitu: Satwam, Rajas dan Tamah yang di dalam pengertian dasarnya dapat diartikan sebagai berikut: Guna Satwam merupakan kebajikan, Rajas merupakan keaktifan dan Tamah merupakan kepasifan, malas atau masa bodoh.

Sifat-sifat ini selanjutnya memberikan pengaruh lebih luas lagi sehingga menimbulkan warna dalam kelahiran manusia di dunia. Seseorang yang kelahirannya diwarnai oleh Guna Satwam akan menampilkan sifat-sifat kesucian, kebajikan dan keilmuan. Seseorang yang diwarnai Guna Rajah akan menampilkan kehidupan yang penuh kreatif, ingin berkuasa, ingin menonjol. Berbeda dengan kehidupan seseorang yang diwarnai oleh Guna Tamah, akan selalu menampakkan sifat-sifat malas, bodoh, pasif, lamban dalam segala-galanya.

Ketiga sifat ini terdapat di dalam setiap tubuh manusia yang lahir dan masing-masing guna ini berjuang saling mempengaruhi alam badan manusia.

Bagi mereka yang teguh iman maka Satwam itulah yang menguasainya, sedangkah Rajah dan Tamah akan diatasi seluruhnya. Sebaliknya kalau Rajah lebih kuat, maka Tamah dan Stawam itu akan ditundukkannya. Begitu pula apabila Tamah yang berkuasa, maka Rajah dan Satwam akan ditundukannya.

Dengan jalan seperti inilah Bhagawad Gita menjelaskan timbulnya garis perbedaan pembawaan seseorang yang disebut warna kelahiran dari kecenderungan sifat-sifat guna itu. Bhagawad Gita Bab IV sloka 13 menyebutkan:

Catur Warnayam maya Srishtam guna karma wibhagusah ............

artinya;

Catur warna adalah ciptaan-Ku

menurut pembagian kualitas kerja ..........

2. Bhagawata Purana.

Di dalam Bhagawata Purana dan smrti Sarascamuscaya pasal 63 dengan tegas dijelaskan sebenarnya tidak ada suatu warna kalau tanpa dilihat dari segi perbuatannya. Dari perbuatan dan sifat-sifat seperti tenang, menguasai diri sendiri, berpengetahuan suci, tulus hati, tetap hati, teguh iman kepada Sang Hyang Widhi, jujur adalah gambaran seseorang yang berwarna Brahmana, tetapi orang yang gagah berani, termasyur, suka memberi pengampunan, perlindungan maka mereka itulah yang disebut Kesatrya.

3. Sukra Nithi

Purana Sukra Nithi memberi keterangan, keempat warna itu tidak ditentukan oleh kelahiran, misalnya dari keluarga Brahmana lalu lahir anak Brahmana juga. Sifat dan perbuatan mereka itulah yang menentukan sehingga mereka menjadi demikian seperti adanya empat warna itu.

Kepada para Brahmana, Tuhan menetapkan sebagai kewajibannya mempelajari dan mengajarkan Weda, melaksanakan upcara kurban untuk diri sendiri dan untuk masyarakat umum, memberikan dan menerima dana punia. Selanjutnya tentang disiplin (Barata) bagi seorang Brahmana dalam Sarasamuscaya sloka 57 yang artinya sebagai berikut:

“Ini adalah brata sang brahmana dua belas banyaknya perintah ...........

(tulisan selanjutnya tak terbaca) ........, wimatsaritwa hrih, titiksa, anasuya, yajna, dana, dhriti, ksama, itulah perinciannya sebanyak dua belas; Dharma dari satyalah, sumbernya, tapa artinya Carira sang-cosana yaitu dapat mengendalikan jasmani dan mengurangi nafsu; dama artinya tenang dan sabar, tahu menasehati dirinya sendiri, wimatsaritwa artinya tidak dengki, iri hati, hrih berati malu, mempunyai rasa malu, titiksa artinya jangan sangat gusar, anasuya artinya tidak berbuat dosa, yajna adalah mempunyai kemauan mengadakan mengadakan pujaan: dana adalah memberikan sedekah, dhriti artinya penenangan dan penyucian pikiran, ksama berarti tahan sabar dan suka mengampuni; itulah brata sang brahmana.”

Suatu keterangan yang sangat menarik sekali tentang tugas Brahmana yang kita jumpai seperti apa yang dikatakan Yudistira tentang Brahmana yang diterangkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan Yaksa atau Python yang mula-mulanya telah menanyakan kepada para adiknya yakni Bima, Arjuna, Nakula dan Shadewa. Akan tetapi karena mereka ini tidak mau menjawab pertanyaan Yaksa tadi sehingga keempatnya mati terbunuh oleh Yaksa.

Yudistira yang sedang mencari adiknya kemudian menemukan keempat orang adiknya telah tidak bernyawa di pinggiran sebuah danau. Demikian Yudistira hendak mengambil air terdengarlah suara yang tidak diketahui asalnya. Ternyata suara itu adalah dari Yaksa. Terjadilah tanya jawab antara Yudistira dan Yaksa. Yaksa bertanya kepada Yudistira sebagai berikut: Apa Brahmana itu? Apakah dasar ketuhanan Brahmana? Perbuatan apakah yang menyatakan ketawakalannya, apa pula sifat kemanusiaan Brahmana itu, perbuatan mereka yang bagaimana menunjukkan ketidaktawakalannya? Yudistira menjawab sebagai berikut:

Brahmana ialah ia yang memperhatikan (bersifat jujur) suka berdarma, pemaaf, mempunyai sifat-sifat yang baik, pengampun atau pelindung, cenderung untuk melakukan pertapaan dan berkeyakinan, ia itulah yang dianggap oleh Smerti sebagai Brahmana.

Mempelajari Weda menunjukkan dasar keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan mereka secara sanyawa menunjukkan peringai ketawakalannya. Pertanggungjawabannya terhadap kematian adalah sifat kemanusiaannya. Fitnah adalah ketidakketawakalannya terhadap Tuhan. Demikianlah sifat-sifat warna Brahmana.

Orang yang berfungsi sebagai payung pelindung jagat atau negara inilah warna kesatrya. Tentang tugas seorang kesatrya dijelaskan lebih lanjut dalam pustaka Manawadarmasastra sloka 89 yang artinya sebagi berikut:

“Para kesatriya, ia perintahkan untuk melindungi rakyat, memberikan hadiah-hadiah, melakukan upacara kurban, mempelajari weda dan mengekang diri dari ikatan-ikatan pemuasan nafsu.”

Selanjutnya dalam kitab Saracamuscaya sloka 58 disebutkan tugas-tugas kesatriya yang artinya sebagai berikut:

“Maka yang harus dilakukan sang kesatriya; harus mempelajari weda, senantiasa melakukan kurban api suci, mengadakan upacara kebaktian, menjaga keamanan negara, mengenal bawahannya sampai anak saudaranya dan kaum kerabatanya .... [tidak terbaca] ... ia berbuat demikian, tingkatan alam sorga akan diperolehnya kelak.”

Dalam Sarasamuscaya sloka 59 disebutkan tugas Waisya sebagai berikut:

Yang patut dilakukan sang Waisya: ia harus belajar pada sang brahmana maupun pada sang kesatriya dan hendaknya ia memberikan sedekah pada sang kesatriya dan hendaknya ia memberikan sedekah pada saatnya. Waktu bersedekah tiba, pada hari yang baik, hendaknya ia membagi-bagikan sedekah pada semua orang yang meminta bantuan padanya, dan taat mengadakan pujaan kepada tiga api suci, perinciannya adalah ahawaniya, garhaspatya dan citagni; ahawaniya artinya tukang masak makanan. Garhaspatya artinya api upacara perkawinan. Itulah api yang dipakai saksi pada waktu perkawinan dilangsungkan; Citagni artinya api untuk membakar mayat, itulah yang disebut tiga api suci; api itulah yang harus dihormati dan dipuja sang weisya; perbuatannya demikian itu menyampaikan dia ke alam sorga kelak.

Kata sudra teridiri atas kata Su dan Dra. Su artinya baik, dra artinya atau berasal dari urat kata dra yang artinya memikul, menjinjing atau mengabdi.

Warna Sudra adalah memikul yang dalam pengabdiannya kepada nusa, bangsa dan negara serta masyarakat mempergunakan tenaga semata-mata (berdasarkan atas kemampuan fisiknya). Para pengabdi (abdi alam) lebih lanjut dijelaskan dalam sarasamuscaya sloka 60 yang artinya sebagai berikut:

“Akan perilaku sang sudra, setia mengabdi kepada brahmana, kesatriya dan waisia, sebagai mana seharusnya: apabila puaslah ketiga golongan yang dilayani olehnya maka terhapuslah dosanya dan berhasil segala usahanya.”

Dalam kitab menawadharmasastra Bab I Sloka 91 lebih lanjut dijelaskan:

“Hanya satu tugas yang Tuhan tentukan untuk para Sudra yaitu memberikan pelayanan dengan setia kepada yang lain.”

Manfaat Catur Warna

Keempat warna ini tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, tak ada yang lebih penting atau kurang penting pengabriannya terhadap negara, sebab semua mengabdi sesuai dengan bidang tugas masing-masing untuk kmenyejahterakan negara. Jika salah satu warna tidak ada, maka semua kehidupan akan lumpuh. Brahmana tidak ada, pemikir, pengajar, pemimpin upacara tidak ada, apakah kebodohan tidak akan terjadi? Kesatriya tidak ada negara tidak mempunyai kekuatan. Waisea tidak ada kemakmuran, kesejahteraan tidak kmerata sebab tidak ada yang mendistribusikan (pedagang), dan jika sudra tidak ada, pekerjaan tidak ada semuanya jalan. Jadi semua warna itu penting.

Sistem warna adalah pembagian tugas pekerjaan didasarkan atas bakat, kecakapan, serta kekaryaan yang dimiliki seseorang. Antara warna yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Saling ketergantungan atau saling memerlukan antara warna yang satu dengan warna yang lain. Tiap-tiap warna mempunyai tugas dan peranan yang sangat penting dalam bidang pengabdiannya (swadharma). Tentang hal ini dapat dipahami melalui kutipan sebagai berikut: Brahmana kesatriya padulur, jatinya paras paros sar panaya. Wiku tanpa mata ya sirma. Tanpa wiku kunang ratu wisirna.

Artinya: Brahmana, Kesatriya saling membantu, sesungguhnya serasi, selaras seimbang. Brahmana tanpa Kesatriya ia akan habis. Begitu juga tanpa Brahmana, Kesatriya tidak dapat berjalan tanpa bantuan, dukungan warna lain. Masing-masing warna tidak akan dapat berjalan sendiri-sendiri, tanpa ada dukungan yang lain.

Misalnya seorang Brahmana tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa perlindungan dari Kesatrya, demikian juga tanpa Wesia (warna yang mengadakan makanan, pakaian, perumahan) dan tanpa Sudra tanpa pengabdi. Seorang Kesatriya tidak akan dapat berhasil dengan baik tanpa bantuan Brahmana sebagai pemberi nasihat, pengatur strategi, memberi motivasi juga tanpa wesia sebagai dukungan logistik dan Sudra, sebagai pembantu tenaga yang kuat.

Wesia tidak dapat berhasil dengan baik jika tanpa Brahmana sebagai sumber pengetahuan, manajemen pengetahuan kepemimpinan, juga tanpa adanya Kesatrya sebagai pelindung, keamanan perusahan, tanpa Sudra sebagai sumber tanaga kerja.

Sudra sebagai pengabdi tidak dapa bekerja tanpa adanya Brahmana, sebagai pengetahuan dasar, pembelahan diri, Wesia sebagai pemilik modal atau dukungan logistik. Untuk mewujudkan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam diri pribadi, baik sekali bila bila keempat warna ini dapat diwujudkan dalam diri sendiri. Misalnya setiap orang sudah selayaknya dapat mempelajari, menghayati dan mengamalkan Weda (ilmu pengetahuan) sebagai perwujudan warna Brahmana. Lebih-lebih dewasa ini semakin banyak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah semestinya setiap orang dapat mengikuti dan perkembangan pengetahuan itu dan mengetahuinya. Demikian pula seseorang sebaiknya dapat mewujudkan warna kesatrya di dalam diri pribadinya. Misalnya dalam usahanya untuk memimpin diri sendiri dan mempertahankan, pembelaan dirinya dari serangan orang lain. Jufa mengusahakan kesejahteraan, memenuhi kebutuhan sandang pangan (makanan) papan (perumahan), sandang (pakaian). Demikian memiliki warna sudra dapat melayani diri sendiri tanpa menggantungkan diri dari pelayanan orang lain.

Dengan memperhatikan dan merenungkan pengertian serta tugas dan kewajiban masing-masing warna dalam catur warna itu, kiranya dapat sedikit kita pahami maksud, tujuan dan manfaat dari sistem ajaran Catur Warna itu diturunkan dan diabadikan di dalam Weda adalah untuk keserasian, keadilan dan ketenteraman hidup lahir batin baik sebagai manusia individu maupun sebagai makhluk sosial dan bersifat universal. Serasi dan adil, karena setiap orang melakukan tugas dan kewajibannya dalam mempertahankan hak hidupnya berdasarkan bakat kelahirannya atau guna karmanya sendiri.

Dapat kita banyangkan, apa yang terjadi apabila tugas dan kewajiban itu tidak didasari bakat dan keterampilan yang dimiliki. Lebih-lebih menyangkut masalah kerohanian keagamaan, disamping bakat, juga perlu pertanggungjawaban moral.

Tab content 1
Tab content 2
Friday the 24th. Custom text here