joomla template

Print

KONSEPPARIWISATABUDAYA

BAGIPEMBANGUNANPARIWISATADAN

KEBUDAYAANSECARABERKELANJUTAN

( PERSPEKTIFPARIWISATADAERAHBALI)

 

oleh Drs. Wayan Geriya

(LPBB / SBS, 1994, hlm. 29)

ABSTRAK

 

Pariwisata Budaya merupakan satu jenis pariwisata yang dalam pembangunannya menggunakan kebudayaan sebagai potensi dasar yang paling dominan. Jenis pariwisata ini diharapkan berfungsi sebagai pemberi identitas bagi kepariwisataan daerah Bali sebagai satu pusat pariwisata di Indonesia.

Secara prosesual normatif dalam perkembangannya selama dua dekade terakhir ini (1974-1994), telah berkembang secara evolutif dua model proposisi yang menjadi landasan dalam rumusan konsep Pariwisata Budaya yang merefleksikan, bahwa isi konsep tersebut dinamik dan adaptatif.

Pertama, menurut Perda No. 3, 1974, konsep Pariwisata Budaya mempunyai arti sebagai satu jenis pariwisata yang dalam pengembangannya ditunjang oleh faktor kebudayaan dengan landasan proposisi, bahwa kebudayaan berfungsi terhadap pariwisata menurut pola hubungan yang bersifat linier dan satu arah. Kedua, sejalan dengan general issue konsepsi Pembangunan Pariwisata Budaya, Pariwisata Budaya diartikan sebagai satu jenis pariwisata yang dalam pengembangannya menggunakan kebudayaan sabgai potensi dasar yang di dalamnya tersirat cita-cita adanya hubungan timbal balik antar pariwisata dengan kebudayaan, sehingga keduanya meningkat secara serasi. Tampak adanya suatu landasan proposisi yang lain, bahwa kebudayaan dan pariwisata harus ada dalam pola hubungan interaktif dinamik-progresif (Perda No.3, 1991).

Untuk mendukung pembangunan pariwisata dan kebudayaan secara berkelanjutan, karangan ini menawarkan satu model normatif tentang elaborasi konsep Pariwisata Budaya dengan bertumpu pada paradigma keserasian yang mengkaitkan secara fungsional-interaktif antra komponen kebudayaan pariwisata dan lingkungan.

 

I. PENDAHULUAN

Tahun 1992 yang lalu di Yogyakarta berlangsung satu konfrensi internasional tentang Pariwisata Budaya atau Cultural Tourism. Salah satu resolusi konfrensi tersebut adalah kesadaran akan pentingnya suatu pola pengembangan pariwisata dalam keterkaitan fungsional dengan kebudayaan dan lingkungan secara serasi, sehingga pariwisata dan kebudayaan dapat berkembang secara berkelanjutan. Gagasan ini sesuai dengan general issues yang berkembang dalam kerangka pembangunan nasional Indonesia yang bertumpu pada konsepsi pembangunan berwawasan budaya dan pembangunan berkelanjutan yang bertumpu pada paradigma keserasian.

Untuk daerah Bali, konsepsi Pariwisata Budaya telah merupakan kesepakatan dan pilihan sebagai identitas pariwisata di daerah Bali yang dirumuskan dalam Seminar Pariwisata Budaya Daerah Bali tanggal 15 September 1971.. Konsep ini dituangkan dalam Perda No. 3, 1974 yang kemudian direvisi dan disempurnakan dalam Perda No.3, 1991. Isi konsep Pariwisata Budaya pada kedua Perda tersebut memiliki arti dan makna yang berbeda dan berubah, dari fungsi yang bersifat linier ke arah fungsi interaktif antara hubungan kebudayaan dan pariwisata.

Walaupun secara legal normatif Bali telah memiliki konsep Pariwisata Budaya, karena kurang elaborasi dan terbatasnya sosialisasi, persepsi sikap dan perilaku para aktor pariwisata sangat beragam. Dalam aplikasi tampak kecenderungan, bahwa persepsi masyarakat tentang Pariwisata Budaya masih menempatkan fungsi kebudayaan dalam hubungan satu arah terhadap pariwisata, dalam arti, sebagai daya tarik, sebagai obyekdan obyektivikasi kebudayaan. Persepsi ini tidak selaras dengan Perda No.3, 1991, tidak sesuai dengan konsepsi pembangunan Bali yang berwawasan budaya, serta tidak mendukung konsepsi pembangunan berkelanjutan.

Untuk mendukung pembangunan pariwisata dan kebudayaan secara berkelanjutan, karangan ini menawarkan satu model normatif, tentang elaborasi konsep Pariwisata Budaya dengan bertumpu pada paradigma keserasian yang mengkaitkan secara fungsional-interaktif antara komponen kebudayaan, pariwisata dan lingkungan.

 

II.BALI DAN PARIWISATA: KONDISI, POTENSI DAN HISTORIS

Propinsi daerah tingkat I Bali merupakan salah satu dari 27 propinsi di Indonesia. Propinsi Bali terdiri dari pulau Bali, pulau Nusa Penida dan pulau-pulau kecil lainnya. Secara administratif propinsi ini mencakup delapan kabupaten, satu kota madya, 51 kecamatan dan 612 desa/kedaerahan.

Propinsi Bali memiliki sumber daya alam yang terbatas, langka kandungan mineral dan miskin dari aneka tambang, sehingga untuk memasuki era industrialiasi, kondisi dan potensi alam tidak mendukung untuk berkembangnya industri-industri besar. Bali sebagai satu pulau yang kecil dianggap tidak cocok untuk pengembangan mega industri.

Namun di balik itu, propinsi Bali memiliki keunikan dan keunggulan kebudayaan. Perpaduan yang harmonis antara potensi kebudayaan dan sumber daya manusia yang kreatif dengan dukungan alam yang mempersona merupakan modal dasar untuk menopang keunggulan kompetitif daerah Bali sebagai pusat pariwisata Indonesia bagian tengah dan sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata yang terkemuka di dunia.

Potensi pokok kebudayaan Bali dapat diformulasikan dari aspek unsur, struktur dan pengalaman sejarahnya sebagai berikut: (1) Kebudayaan Bali memiliki variasi dan diversifikasi yang tinggi sesuai dengan adagium desa, kala, patra; (2) Kebudayaan Bali merupakan satu sistem yang unik dengan identitas yang jelas; (3) Kebudayaan Bali memiliki akar dan daya dukung lembaga-lembaga tradisional yang kokoh; (4) Kebudayaan Bali merupakan satu kebudayaan yang hidup dan fungsional yang selalu berkembang dan dikembangkan untuk memelihara keserasian hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan sesamanya; dan (5) Kebudayaan Bali dalam keterbukaannya dengan kebudayaan asing memperlihatkan sifat fleksibel, selektif dan adaptatif, serta mampu menerima unsur-unsur asing untuk menjadi milik dan kekayaan budaya sendiri tanpa kehilangan kepribadian (Mantra, 1988; Geriya, 1990).

Survai Biro Pusat Statistik tentang Pengeluaran dan Opini Tamu Asing 1994/1995 pada tiga bandar udara di Indonesia: Halim Perdana Kusuma, Ngurah Rai dan Polonis memperoleh gambaran, bahwa daya tarik utama wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia adalah karena faktor kebudayaan. (lihat tabel 1 di bawah).

Tabel 1. Daya Tarik Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

 

No.

DayaTarik

Prosentase (%)

1.

Kebudayaan

(Tatacara hidup, tari-tarian, batik ukiran, lukisan)

70,0

2.

Pemandangan alam

17,8

3.

Flora dan fauna

12,2

 

T o t a l

100,0

 

 

Sumber: Hasil Survai BPS, 1984/1985

 

Bertumpu pada potensi daerah Bali yaitu kebudayaan, dikaitkan dengan faktor utama yang menjadi daya tarik para wisatawan, maka sangat tepat jenis Pariwisata Budaya ditetapkan sebagi jenis dan identitas pariwisata di daerah Bali.

Secara historis, dengan meminjam pola periodisasi yang dikemukakan oleh Foster dan Greenwood yang memilah tahap-tahap perkembangan suatu daerah wisata atas tiga tahap (tahap discovery, tahap local response dan tahap institusionalized), maka daerah Bali dapat dikatakan telah memasuki tahap ke III.

Berawal sekitar tahun 1920’an daerah Bali telah mulai dikenal sebagai daerah tujuan wisata di nusantara ini. Realitas kehidupan penduduk, kebudayaan dan keindahan alam yang mempesona, serta ditopang oleh berbagai publikasi dan promosi yang menarik telah membentuk datu citra yang positip tentang daya tarik pulau Bali yang digambarkan sebagai pulau dewata.

Kemudian sejak tahun 1966 (pemukaan hotel Bali Beach), tahun 1969 (pembukaan bandara Ngurah Rai sebagai bandara internasional) dan tahun 1971 pengembangan kawasan wisata Nusa Dua, merupakan tiga momen historis yang menunjukkan besarnya local respon dalam pengembangan pariwisata yang berbobot internasional yang selanjutnya dikembangkan dalam beragam jenis bentuk local respons lamanya dari skala mikromeso dan makro.

Tahun 1971 (tepatnya 15 September 1971) berlangsung seminar Pariwisata Budaya Daerah Bali di hotel Denpasar, suatu seminar yang merumuskan dan melahirkan konsep Pariwisata Budaya sebagai identitas pariwisata daerah Bali. Kemudian disusul dengan lahirnya Perda No.3, 1974 tentang Pariwisata Budaya. Momen ini dapat dianggap sebagai serangkaian momen kunci dalam upaya pelembagaan pariwisata di daerah Bali. Selanjutnya untuk mengadaptasi dinamika dan perkembangan, maka pada tahun 1991 ditetapkan Perda No.3 tahun 1991 yang merevisi dan menyempurnakan Perda No. 3 tahun 1974.

III. KONSEPPARIWISATABUDAYA

DALAMPERDANO. 3, 1974DANPERDANO. 3, 1994.

Secara prosissual normatif dalam perkembangannya selama dua dekade terakhir ini (1974-1994), telah berkembang secara evolutif dua model proposisi yang menjadi landasan dalam rumusan konsep Pariwisata Budaya yang merefleksikan bahwa isi konsep tersebut dinamik dan adaptatif.

Pertama, menurut Perda No. 3 tahun 1974. “Pariwisata Budaya adalah salah satu jenis pariwisata yang dalam pengembangannya ditunjang oleh faktor kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu”. Konsep ini dilandasi oleh proposisi, bahwa kebudayaan berfungsi terhadap pariwisata menurut pola hubungan yang bersifat linier dan satu arah.

Kedua, menurut Perda No. 3 tahun 1991. “Pariwisata Budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari hubungan nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, yang di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dan kebudayaan, sehingga keduanya mengingkat secara serasi, selaras dan seimbang”. Konsep ini dilandasi oleh propinsi yang lain, bahwa kebudayaan dan pariwisata harus ada dalam pola hubungan interaktif yang bersifat dinamik dan progresif.

Rumusan pertamaterkait erat dengan general issue tentang pembangunan nasional yang memberikan prioritas tinggi kepada bidang ekonomi. Rumusan kedua yang merupakankesinambungan dari rumusan pertama dikembangkan dan diadaptasikan dengan general issue tentang Pembangunan Berwawasan Budaya. Dalamrumusan kedua telah tercakup cita-cita, di satu pihak untuk mencegah terjadinya obyektifitas kebudayaan dengan segala dampak negatifnya, dan dipihak lain dituntut agar makin majunya pariwisata disertai pula dengan makin majunya kebudayaan dengan segala harkat dan martabatmanusia dan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.

 

IV. KONSEP PARIWISATA BUDAYA YANG MENDUKUNG PEMBANGUNAN

PARIWISATA DAN KEBUDAYAANSECARA BERKELANJUTAN.

Pembangunan berkelanjutan daerah Bali dikembangkan bertumpu pada paradigma keserasian antara bidang ekonomi, kebudayaan dan lingkungan. Dalam upaya mengadaptasikan isi konsep Pariwisata Budaya dengan general issue pembangunan berkelanjutan, karangan ini menawarkan satu model normatif elaborasi dari konsep tersebut dengan mengintegrasikansecara holistikkomponen-komponen poko sebagai berikut :

1)Kebudayaan sebagai pemberi identitas.

2)Pola hubungan interaktif antara kebudayaan, pariwisata dan lingkungan sebagai landasan.

3)Pariwisata untuk Bali sebagai motivasi dan aspirasi

4)Pembangunan Berwawasan Budaya sebagai konsepsipayung

5)Pariwisata berkualitasdan kesejahteraan masyarakatsebagai sasaran.

4.1. KebudayaanSebagai Pemberi Identitas

Posisi dan fungsi kebudayaan dalam konsep Pariwisata Budaya amat dominan. Agar kebudayaan benar-benar dominan, kebudayaan harus mampu :

1.Memberikanidentitas, dukungan dan penjiwaan yang terrefleksidalam seluruh aspek kegiatan pariwisata yang mencakup akomodasi transportasi, atraksi, jasa dan promosi melalui sistem simbol, landasan filosofisdan wawasan religiusitas

2.Kebudayaan mampu berfungsi sebagai pendekatan yang mengutamakan domain humaniti dan etis, serta memuliakan harkat dan martabat masyarakat sebagai aktor dan subyek.

 

4.2. Pola Hubungan Interaktif antara kebudayaan, Pariwisata dan Lingkungan

Kebudayaan diperlukan berperan bagi pengembangan dan kemajuan pariwisata, demikian pula komponen lingkungan diperlukan untuk menunjang kemajuan pariwisata. Pariwisata yang makin maju jugadituntut untuk dapat memberikan imbas balik bagi pelestarian dan kemajuan kebudayaan serta kebudayaan serta bagi pelestariandan kemajuan lingkungan.

Dalam pola-pola hubungan yang bersifat interaktif-dinamik-progresiptersebut tidak ada komponen yang berkedudukan sebagai obyeksemata, baik obyektivikasikebudayaan maupun obyektifikasilingkungan, karena obyektifikasipadahakikatnya adalah eksploitasi. Ketiga komponen tersebut harus berfungsi saling memuliakan, sehingga dapatdicegah adana egoismesektoral.

 

4.3. Pariwisata Untuk BaliSebagai Motivasi danAspirasi

Dalam pengembangan pariwisata, daerah Bali memiliki motto yang sangat aspiratifdanmotivatif yaitu “ Pariwisata Untuk Bali dan Bukan Bali untuk Pariwisata ”.

Motto ini perlu diaktualisasikan dalam kegiatan lapangan yang mencakup seluruh aspek kegiatan kepariwisataan. Motto ini sekaligusingin menempatkan harkat dan martabat daerah Bali : manusianya, kebudayaan, alamnya, sebagai tujuan wisata di Nusantara.

4.4. Pembangunan PengembanganBerwawasan Budaya Sebagai Konsepsi Payung

Melalui konsepsi Pembangunan Bali yang Berwawasan Budaya ingin diarahkan agar pembangunan memiliki : identitas, makna kualitatif, etis, memuliakan harkat dan martabat manusia, serta memajukan kesejahteraan masyarakat secara seimbang material-spiritual. Secara memokoh, Pembangunan Bali yang Berwawasan Budaya memiliki pengertian sebagai berikut :

1.Kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan nasional berfungsi sebagai potensi dasar yang melandasi segala gerak dan langkah pembangunan, baik sektoral, regional maupun sumber daya, sehingga pembangunan memiliki identitas yang jelas.

2.Pembangunan merupakan suatu proses kegiatan yang menekankan makna kemanusiaan, etis, serta memuliakan kualitas, harkat dan martabat kemanusiaan.

3.Pembangunan tersebut harus mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara seimbang material spiritualserta sekaligus dapat membawa inbas balik bagi kemajuan kebudayaan

Pembangunan Berwawasan Budaya merupakan satu paradigma (Bagus, 1992) atau suatu orientasi, proses dan sekaligustujuan (Geriya, 1991).

 

4.5. Pariwisata Berkualitasdan Kesejahteraan MasyarakatSebagai Sasaran.

Agar konsepsiPariwisata Budaya cocok dan adaptatif dengan konsepsiPembangunan Bali Berkelanjutan, maka pengembangan Pariwisata Budaya harus berorientasi pada peningkatan kualitas.Pariwisata berkualitas adalah pariwisata yang perkembangannya secara konkrit :

a.Berorientasi kebudayaan

b.Bersimpati pada kelestarian lingkungan

c.Bermuara pada kemajuan ekonomi, pertumbuhan, pemerataan dan kesejahteraan secara utuh.

 

DIAGRAMI:MODEL ELABORASI KONSEPSI PARIWISATA BUDAYA

YANG MENDUKUNG PEMBANGUNAN PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

SECARA BERKELANJUTAN

 

ATRAKSIPROMOSI

 

 

           
  Text Box: MOTOVASI + ASPIRASIPARIWISATA UNTUK BALIBUKANBALI UNTUK PARIWISATA   Text Box: PARIWISATA   Text Box: SASARAN   *   PARIWISATA BERKUALITAS           + MAJU EKONOMI           + ORIENTASI KEBUDAYAAN           + SIMPATI LINGKUNGAN   *   KESEJAHTERAAN             MASYARAKAT§

 

FGLDD

 

 

                       
   
 
 
       
 
 
     
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AKOMODASIJASA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. APLIKASI : SOSIALISASI, PROSPEK DAN TANTANGAN

 

Dalam rangka aplikasi konsep, maka langkah-langkah riil yang perlu dilaksanakan agar konsep tersebut cukup operasional adalah :

1.Sosialisasi konsep yang ditujukan kepada seluruh aktor pariwisata dan masyarakat. Tujuan sosialisaiuntuk menumbuhkan persamaan persepsi dan sikap terhadap Pariwisata Budaya.

2.Implementasikonsep dalam pelbagai studi, baik studikelayakanmaupun studi andal.

3.memantapkan dasar hukum yang melambangkan konsep tersebutdengan segala perangkat lunak dan keras.

Bertumpu pada potensi internal dan kondisi eksternal yang berkembang, agaknya eksistensidan perkembangan PariwisataBudayamemiliki prospekyang cerah, baik dalam PELITAVI maupun PJP II :

1.Meningkatkan pariwisata dunia

2.Meningkatnyaposisi kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia

3.Kemauan politik yang menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan

4.Kekayaanaset budayaNusantara, termasuk Bali

5.Kebutuhan akandaerah-daerah tujuan wisata yang memiliki identitas tertentu yang merefleksikan keaneka ragaman.

Tantangan pokok dalam pengembangan Pariwisata Budaya berkiblat pada masalah mutu yang perlu ditingkatkan dalam seluruh aspek : promosi, akomodasi, transportasi, atraksi dan jasa. Juga dituntut adanya konsistensiinternaldalam berbagai pelaksanaan. Tantangan yang tidak ringan adalah berkembangnyaBudayaPariwisata yang tidak serasi dengan Pariwisata Budaya (Graburn, 1983).

 

VI. PENUTUP

Karangan ini telahmencoba membahas konsep Pariwisata Budaya untuk menunjang pembangunan pariwisata dan kebudayaan secara berkelanjutan dari perspektifpariwisata daerah Bali telah ditawarkansatu model normatif tentang elaborasi konsep Pariwisata Budaya dengan bertumpu pada paradigma keserasian dengan mengkaitkan secara fungsional-interaktif antara komponen kebudayaan, pariwisata dan lingkungan.

Supaya konsep tersebut cukup operasional telah dianjurkan satu pola sosialisasinya, serta juga digambarkan skenario prospek dan tantangannya pada masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bactiar, HarsyaW., 1985,“ Sistem Budaya di Indonesia “Budaya dan Manusia Indonesia.

PT. Hanindita . Yogyakarta.

Bagus, I Gusti Ngurah dkk., 1992.“ Pembangunan Bali Berwawasan Budaya “dalam Majalah IlmiahUniversitasUdayana. Terbitan khusus, Tahun 1, No. 1 Puslit UNUD Denpasar.

Graburn, Nilson H.H., 1983“ The Antropologyof Tourism “Anna of TourismResearch, Vol. 10No. 1

Geriya, Wayan, 1990.“ Strategidan KonsepsiKebudayaan yang Melandasi Pembangunan Daerah Bali “makalahdalam seminar Bappeda Daerah Bali Denpasar.

Koentjaraningrat, 1985.“ Persepsi Kebudayaan Nasional “,Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan( Alfian, ed). Jakarta.

 

Mantra, Ida Bagus, 1988. “ Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Bali dalam rangka Menyongsong Era Tinggal Landas “,makalah dalam seminar dan loka karya Penelitian Menyongsong Tinggal Landas. Puslit UNUD Denpasar.

 

Mc Kean, Philip Frick, 1973. Cultural Involution : Tourist, Balinese and the Process of Modernization in an AntropologicalPerspectivePh D Desertation Brown University, USA.

Moeljarto, Tjokrowinoto, 1986. “ Alternatif Perencanaan Sosial Budaya “dalam Masalah Sosial Budaya Tahun2000. Sebuah Bunga Rampai. Penerbit Tiara Wacana. Yogyakarta.

Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1989. Rencana Pembangunan Lima Tahun ke Lima Daerah Propinsi, Daerah Tingkat I Bali (REPELITA V Daerah) 1989/1990-1993/1994 Denpasar.

Soebadjo, Haryati, 1991. “ Kesinambungan Nilai Budaya Indonesia dalam Era Kebangkitan Nasional “,makalah salam seminar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar.

SoerjantoPoespowardojo, 1989. Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofis. Gramedia Jakarta.

 

Tab content 1
Tab content 2
Monday the 1st. Custom text here