best joomla templates

Print

KEUNIKAN GOTONG ROYONG DI BALI MELALUI PERSUBAKAN DAN SEKAHE SERTA PENAFSIRANPERKEMBANGAN DI BALI DEWASA INI DAN DI MASA MENDATANG.

( Rotary club – Bali Hyatt Hotel March, 1983)

by : Pastor Norbert Shadeg, SVD. MA.

 

I.Banyak nama julukan diberikan kepada pulau Bali seperti : “Pulau Dewata”, “Pulau Kuil“, “Pulau Hantu“, “Pulau Hiburan“ atau “Sorga terakhir“.

Namun orang Bali sendiri pernah menolak sebuahfilm dengan judul terakhir tersebut. Secara tradisionaldan dalam hubungannya dengan falsafahhidup orang Bali, mereka toh mempunyai perasaan bahwa Bali berarti sorga bagi mereka.

Dalam hubungannya dengan kepercayaan orang Balidalam hal“ matenpsychesis ” (perpindahan roh) mereka hanya berharap bahwa suatu kehidupan yang baikakan memberikan mereka suatu ganjaran reinkarnasi di masa mendatang dalampeningkatan kasta di pulau Bali.

Apabilakehidupan mereka di bumi ini jelek sehingga mendatangkankemarahan para dewa maka rohnya akan merosot dalm reinkarnasimenjadi bentuk binatang yang lebih rendah derajatnya. Di atas itu semua orang-orang Bali tidak begitu mudahuntuk meninggalkan pulau kesayangannya selama waktu-waktu yang telah silam.

Bahkan penduduk pribumi selalu menikmati suatuisolasiyang manis semenjakpengungsian leluhur mereka yang beragama Hindu ke Bali akibat masuknya kekuatanIslam ke Jawa hampir 500 tahun yang lalu.

Bagaimana juga hal ini tidak berarti bahwa Bali adalahsorga dalamsegala-galanya. Perjuangan dan pergulatan bukanlahsesuatu yang asingdalam kehidupanorang-orang Bali. Hal ini dapat dilihat secara jelas pada Sejarah Balikarangan Dev. Pandit, Gst. Tamba, Dr. Goris dan lain-lain yang antara lain mengisahkan tentang peperanganantara Pulau-pulau (Jawa dan Lombok) peperangan antara Raja-raja di Bali, peperangan antara suku-suku san keluarga, perang secara perseorangan antara Gerakan G. 30 S /PKI tahun 1965 yang lalu dimana sangat banyak orang-orang Bali menjadi korban keganasab sesamanya.

Namunterkenal pula sesuatu Keunikan “SemangatKorps” dalam hal kerja sama melalui organisasi-organisasi kemasyarakatanuntuk kepentingan bersama yang menghasilkan pula kegunaan bagi masyarakat umum.

Organisasi-organisasi atau perkumpulan-perkumpulan sedemikian biasanya didasarkanpada semangat gotong-royong yang berakar pada “Strict equality” (bersama-sama0 dan bukan pada “equity” (kelayakan).

Karena itu kehidupan di Bali dewasa ini dapat dilukiskan sebagai suatukompromiyang membahagiakan antara :

1.Communalism” yang merupakan suatu theori pemerintahan yang memberikan otonomi daerah yang paling besar bagi masing-masing masyarakat setempat.

2.Communism”yakni suatu theori yang menghendaki suatu bentuk masyarakatdi mana tidak ada milik pribadi, semua harta milik diserahkan untuk kepentingan umum semua anggota. Prinsipyang diakui ialah bahwa setiap orang patut bekerja seturut kemampuan yang dimilikinya dan menerima sesuai dengan kebutuhannya.

3.Democracy” suatu bentuk pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat secara keseluruhan, dan kekuasaan tersebut dijalankan oleh mereka sendiri atau oleh orang-orang yang mereka pilih sendiri sebagai Wakil.

4.Feudalism” yakni suatu sistim pemerintahan yang didasarkan pada rasahormat danpelayanan kepadapenguasa tertinggi yang menganugrahkantanah dan yang tetap menjadi miliknya.

Sejarah Bali telah mengenal begitu banyak pergulatan peperangan, persengketaan dan perpecahan, namun ditengah-tengah itu semua kebudayaan tradisional Bali tetap bertahan kokoh sampai dewasa ini.

Kebudayaan Bali telah diperkaya oleh India dan Jawa, tidak hanya dalam periode ke-masyarakatanMajapahit yang merupakan kebudayaan Jawa-Hindu yang terakhir 500 tahun yang lalu. Orang Bali telah menyerap dan mengadaptasikan banyakunsur-unsur(terutama dalam abad 14 sampai abad 19 ) yang berkaitan dengan hal-hal pokok dalam kehidupan orang Bali seperti : tarian, musik, seni dan arsitek, agamadan khususnya keunikan organisasi seperti yang terlaksana salam sistim pengairan dalam persawahan di Bali, yang telah memungkinkan Bali menjamin kehidupan orang-orangnya yang berjejal dalam sebuah pulau seluas hanya±2000 mil persegi.

Sesungguhnya makanan merupakan kebutuhan manusia yang utama dan pertama dan pertama : Karena itu pengelahan padi Bali yang terdahulu dikembangkan dengan sistim pengairan dengan terusan dan parit-parit, yang terutama hidup dalam subak-subak, banjar-banjar dan sekaha (seka) di Bali tetap merupakan suatu kekaguman bagi sunia dewasa ini.

Pengetaman-padi telah menunjukkan dalam kehidupan orang Bali suatu ketrampilan dalam teknik, suatu pandangan masa depan, kesabaran dan usaha serta kerjasama. Sistem pengolahan sawah tersebut juga menghasilkan suatu panorama yang indah dengan warnaya yang mempesona serta latar belakang phisik yang memancarkan kehidupan orang Bali.

Termasuk juga di dalamnya keindahan pematang sawah yang berleret-leret, padi yang berwarna-warni, upacara-upacara yang menyertai pertumbuhan padi di sawah; tehnik-tehnik pengairan yang luar biasa unik dan terutama persubakan yang mencerminkan penghayatan metode demokratis dalam masyarakat Bali dimana:

§keanggotaan merupakan suatu keharusan.

§Pimpinan dipilih oleh suara terbanyak.

§Keharusan memberikan “ayahan” (pelayanan) walaupun bertentangan dengan keinginan sendiri dan kepentingan masyarakat yang ditekankan sebagai yang tertinggi dengan kemegahan upacara keagamaan – yang menjalankan suatu bagian yang begitu unik dari kehidupan dan kebudayaan Bali.

 

II.Persubakan di Bali dan beberapa keistimewaannya:

Basis keagamaan memainkan suatu peranan penting dalam segala corak kehidupan di Bali juga dalamorganisasi-organisasi persawahan yang disebut: “Subak”. Upacara-upacara didasarkan pada “dewasa” atau “waktu-waktu / hari-hari yang tampan”.

Masih terdapat pandangan tradisional kuno bahwa tanah adalah milik para dewata, tapi untuk upacara keagamaan yang khusus terkandung makna bahwa hak makai dan menikmati hasilnya teruntuk bagi manusia sedangkan hak milik tetap ada pada para dewata.

Sehubungan dengan itu kehormatan yang besar di Bali diberikan kepada Dewi Sri (isteri Bhatara Wisnu) yang merupakan dewi pertanian, dewi kesuburan dan keberhasilan. Juga kehormatan yang sama diberikan pula kepada Dewi Melanting (putri Dewi Sri), yang merupakan dewi benih, kebun dan pasar.

Dan juga kepada banyak dewa dan dewi yang melindungi pertanian melalui “sesajen” atu “banten-banten” khusus pada waktu-waktu tertentu yang begitu mempesona di seluruh panorama pulau Dewata.

Persubakan merupakan suatu organisasi yang diatur dengan sangat rapi di bawah pengawasan dan pengaturan seseorang.

1.Pangliman: petugas perkumpulan sawah yang lebih rendah.

2.Pekaseh: pimpinan subak.

3.Sedahan: pimpinan sekelompok subak

4.Sedahan Agung: Pimpinan tertinggi untuk seluruh perkumpulan subak.

Petani-petani Bali sangat memerlukan perkumpulan-perkumpulan sedemikian seperti:

Ulun Carik” di mana semua orang diwajibkan ikut, yang memang sudah mendtradisi dalam kehidupan orang Bali dengan penekananan bukan pada kelayakan (“equity”) tapi pada kesama-rataan (“equality”).

Mengingat Bali merupakan suatu wilayah yang sangat berorientasi pada segi keagamaan maka orang-orang Bali merasakan suatu keharusan untuk membuat upacara-upacara bagi para dewa seperti halnya: berkat bagi sawah (pencerminan pemilikan yang radikal yang masih dikaitkan dengan dewata);

Cari Dewasa” yang merupakan suatu rapat pleno untuk menentukan hari-hari baik untuk melaksanakan bermacam-macam upacara keagamaan.

Terdapat juga beberapa upacara sedemikian yang bertujuan untuk mendapatkan berkat dari par dewata seperti halnya Ritus khusus berikut:

a.Mapag yeh” (= menjempuit air) yang dihadiri oleh Sedahan Agung untuk memohon air atau turunnya hujan dari langit.

b.Ngurit”: untuk mendapatkanbenih sebelum menanam padi, yang dihadiri oleh pangliman, pekaseh dan sedahan.

c.Wiwit”: pemberkatan benih ... dan saat mulai menanam (“memula”) yang disesuaikan pula denganusia benih dalam pesemaian.

d.Nedeh” di Badugul: yang dilaksanakan dengan penyajian “bebantenan” bahkan prosesi yang dimaksudkan untuk menolak penyakit padi.

Disusul dengan acara “Nyepi di Carik” selama 1 hari atau ½ hari seturut adat setempat.

e.Neduh” di Ulun Carik, penghormatan di pura sawah untuk dewi kesuburan agar padi yang sudah ditanam dapat bertumbuh dengan subur sehingga menghasilkan buah yang melimpah.

Semua orang mempunyai kewajiban yang sama.

f.Meaba” yakni doa mohon panen yang baik dan juga doa syukur atas panen yang diperoleh biasanya dilaksanakan pada hari-hari sebelum memotong padi.

g.Masuk Jineng” (“ngejin cau”) yakni upacara sewaktu memasukkan padi dalam lumbung (=jineng) yang biasanya dilaksanakan oleh keluarga masing-masing.

Sehubungan dengan adanya beberapa jenis penyakit padi yang telah merusak padi di Bali beberapa tahun yang lampau yang dikenal dengan “wereng” maka banyakpetani di Bali telah mencoba menanam bibit-bibit padi unggul yang tahan wereng seperti: PB 36, C.4, Pelita, Kroing Aceh yang biasanya berumur sekitar 3 bulan.

Para petanipengolah sawa di Bali tidak selalu merupakan pemilik atas sawah yang diolahnya.

Ada bermacam-macam kemungkinan dalam penggarapan sawah di Bali antar lain:

a.Nandu:

di mana separuh dari hasil panen diserahkan oleh penggarap sawah kepada si pemilik sawah. Biasanya sawah tersebut milik tuannya (gustinya) dan diserahkan kepada hamba-hambanya (“tani nya”) untuk digarap dengan bagi hasil.

Di sini biaya-biaya ikut pula ditanggung bersama, termasuk pajak dan biaya pupuk.

b.Pleis tandu:

Sama seperti sistim “nandu” hanya dalam hal ini terjadi semacam kontrak di mana si penggarap menyerahkan sejumlah uang sebagai jaminan bagi si pemilik sawah yang nantinya akan dikembalikan bila sawahnya tidak digarap lagi oleh si penggrap. Hal ini bisa berlaku antara para petani itu sendiri atau bisa pula dengan gustinya.

c.“Megadaē/masanda”:

seluruh hasil panen menjadi milik si penggarap karena di pemilik telah diberikan sejumlah uang yang cukup besar sebagai pinjaman tanpa bunga oleh si penggarap sawah untuk jangka waktu tertentu.

d.“Kontrak”:

dengan melalui suatu perjanjian kontrakan maka si pemilik sawah melepasksn hak pakai dan hasil atas miliknya selama masa kontrakan yang disepakatinya.

e.“Pejatu”:

tanah milik negara tapi hasilnya sepenuhnya diambil oleh si penggarap tanah.

Di dalam memetik hasil padi (“mengetam padi’) terdapat pula perkumpulan-perkumpulan yang dikenal sebagai “sekaha manyi” yang mendapatkan upah dengan perhitungan tertentu, seperti:

a)1 : 10 (sepersepuluhan)

b)1 : 9(sepersembilan dari hasil)

c)1 : 8(seperdelapannya)

d)1 : 6( seperenam dari hasil)

Misalnya di Piling / Tabanan.

Takaran yang dipakai untuk padi Bali ialah satuan “ikat”jadi kalau hasil seluruhnya 50 ikat maka sekaha dengan perhitungan (a) akan mendapat upahsebanyak 1/10 X 50 ikat = 5 ikat . dan seterusnya.

Sedangkan untuk padi bibit unggul yang berupa gabah maka takaran yang dipakai bisak blēk atau kampil, sehingga petani yang memperoleh hasil 50 kampil / 100 blēk, akan menyerahkan kepada sekaha manyinya sebanyak 5½ kampil atai 11 blēk dengan perhitungan katagori (b) dan begitu seterusnya.

Hasil yang diperoleh oleh sekaha tersebut dihimpun dalam lumbung banjar / lumbung sekaha yang bersangkutan, dan baru dibagi menjelang hari Raya Galungan atau hari khusus tertentu di mana mereka paling memerlukannya.

Pembagian dibuat secara sama rata.

Namun dengan kemajuan tehnik seperti adanya mesin penyosohan gabah dan banyaknya pedagang yang mudah menerima hasil sawah, maka biasanya hasil yang diperoleh oleh sekaha dala suatu hari langsung diuangkan yang sidimpan oleh pengurus (‘katik’) yang ditunjuk secara bergiliran.

 

III.ORGANISASIMASYARAKATTRADISIONALDIBALI

Seka(ha) di Bali sebagai Pusat kerjasama sosial dan timbal balik dalam Kebudayaan orang-orang Balil.

Dalam suatu edisi tahun lalu (1982) yang diterbitkan oleh Pemerintah Bali antara lain diuraikan sedikit mengenai arti dan fungsi seka(ha) dalam kehidupan orang-orang Bali sebagai berikut:

Peranan seka(ha) dalam komunitas amat besar,karena banyak kegiatan-kegiatan khusus dalam komunitas bersangkutan ditangani melalui lembaga ini. Penanganannya dapat dalam bentuk kerja gotong royong dan dalam bentuk kerja upahan ... Sekeha merupakan suatu perkumpulanatau kesatuan sosial yang mempunyai tujuan-tujuan khusus tertentu. Dasar keanggotaan pada umumnya adalah kesukarelaan. Ikatan sekeha terbina oleh adanya tujuan bersama dan norma-norma yang ditetapkan dan disepakati bersama. Eksistensi suatu sekeha, ada bersifat sementara (dibentuk dalam waktu dan keadaan tertentu dan kemudian bubar) dan ada pula bersifat permanen (keanggotaaanya diwariskan melalui beberapa generasi turun temurun).

Tujuan sekeha itu bermacam-macam dan sering identitas sekeha ditentukan oleh tujuannya. Sekeha mamula, misalnya (perkumpulan menanam padi) adalah suatu perkumpulan yang bertujuan untuk memperoleh sejumlah dana tertentu melalui kegiatan kerja upahan tanam padi yang dikerjakan oleh para anggota sekeha yang bersangkutan.

Keanggotaan sekeha dapat bersifat sementara atau permanen.

Umumnya anggota suatu sekeha adalah mereka yang berprofesi.

Asal anggota bisa tidak asal dari wilayah satu banjar tertentu. Jumlah anggota suatu sekeha amat bervariasi dapat kecil dan dapat pula besar (sekeha mamula, misalnya dapat terdiri darisekitar 5 orang, sedangkan sekeha semal dapat terdiri dari sekitar 100 orang).

Pimpinan suatu sekeha disebut klian sekeha. Aparat pembantunya antara lainadalah aparat yang menangani urusan keuangan sekeha dan aparat juru arah yaitu aparatyang bertugas sebagai media komunikasi.

Beberapa jenis sekeha yang bergerak dalam sistim ekonomi dapat disebutkan antara lain:

a.Sekeha mamula: Perkumpulan tanam padi

b.Sekeha manyi atau maderep:Perkumpulan potong padi

c.Sekaha sambang:Perkumpulanmengamat-amati dan menjaga keamanan

Serta keselamatan tanaman di sawah

d.Sekeha semal:Perkumpulan mengusir bajing

e.Sekeha kopi:Perkumpulan untuk mempertahankan mutu kopi dan

menjaga tanaman kopi

f.Sekeha jurang:Perkumpulan menjag keutuhan jurang.

Evaluasi terhadap sekeha di Bali.

Begitula beberapa kekhasan organisasi sekeha-sekeha yang terdapat di Bali sampai dewasa ini, yang membawa banyak sekali pengaruh dan dorongan bagi penduduk setempat untuk beberapa kepentingan yang sangat khusus di kalangan kelompok-kelompok kecil / terbatas dari orang-orang tertentu yang terdapat di pulau Bali.

Kekhasan-kekhasan itu betul-betul merupakan harta milik yang sangat berguna bagi promosi kelompok ang berusaha merealisir tujuan bersama, entah material maupun yang lain di kalangan penduduk setempat.

Dalam bukunya yang termasyur mengenai Adat Bali (1) (Adat kebiasaan di Bali), Dr. V.E.Korn secara gamblang menjelaskan sebagi berikut:

“If any Balinese thinks that some from of association can be of use, he will forthwith proceed to set it up”.

Ucapan ini yang keluar dari seorang siswa yang secara sangatserius menyelami hal-hal yang berhubungan dengan Bali, yang dinyatakannya beberapa tahun silam, dewasa ini betul-betul masih mengena ...... juga dalam pembentukan apa yang dikenal sebagai “sekeha”.

Seturut Dr. Korn organisasi atau perkumpula yang simaksud “Seka” sesungguhnya sangat umum dalam banyak beraneka bidang. Karya sosial dan organisasi di pulau Bali seperti misalnya yang dikemukakan oleh pengarang-pengarang adat Bali yang banyak menyinggung tentang perkumpulan-perkumpulan seka sedemikian: khususnya yang berhubungan dengan karya-sosial dalam persawahan, kelompok-kelompok desa yang khusus dengan suatu kepentingan khsusus: seperti persatuan muda-mudi, khususnya kelompok-kelompok seniman yang begitu terkenal di Bali;

Kelompok-kelompok yang mengatur kemurnian tradisional Bali dalamhal pengairan sawah, persatuan dalam pengolahan kopi, dan jeniskelompok lainnya yang bertujuan mempromosikan kemajuan agama, budaya dan sosial ... bahkan hanya untuk mempromosikan beberapa kegiatan olah raga seperti halnya permainan layang-layang, memancing, dan terakhir disebut oleh Dr. Korn adalah “seka jaring” (perkumpulan orang-orang yang membuat jala penangkap ikan, yang terdiri dari para penjala ikan yang mempunyaikekayaan berupa jaring / jala, boat, dan “pilot cars:. Ikan-ikan yang berhasil ditangkap dibagi-bagi di antara para anggota kecuali bagi si pemimpin rombongan diberi bagian dobel ...”

Tentu saja semua anggota dari suatu seka di Balu juga mempunyai beban dan tanggung jawab untuk membantu mendapatkan dan memperluas bahan dasaryang diperlukan ole seka mereka apapun wujudnya. Dalam segala hal yang mereka kerjakan orang-orang Bali mempunyai suatu perasaan terhadap kebutuhan dari “kebersamaan” bagi setap pekerjaan umum atau pemenuhan kewajiban yang dapat diselesaikan sebagai suatu kelompok bagi setiap hasil guna pembagian yang merata di kalangan para anggota.

Setiap orang yang telah pernah melihat sekeha-sekeha yang sedang bekerja di Bali, pasti mengatakan bahwa sekeha-sekeha tersebut dapat bermanfaatdalam perkembangansosial-ekonomi.

Segera setelah anda memperkenalkan sesuatu dalam deretan Tata buku, kalkulasi, atau kebutuhan akan perhitungan yang wajar, maka segalanya akan menjadi lebih sulit bagi para penduduk desa yang sederhana di Bali.

Jadisekeha-sekeha dapat dipertimbangkan sebagai suatu “Pre – cooperative” yang nyata dan mungkin sekeha-sekeha dapat ini merupakan “pre – cooperatiuve” yang terbaik di Indonesia. Sekeha-sekeha toh mempunyai suatu kebebasan yang berarti dalam kaitannya dengantradisi-tradisi yang bersifat mengikat di pulau Bali.

Sekeha-sekeha tersebut memberi kepada orang-orang satu-satunya kesempatan untuk berbuat sesuatu atas tanggung jawab dan inisiatif sendiri.

Namun “pre-cooperatives” perlu berkembang menjadi suatu dalam deret cooperatives modern yang lebih banyak: hal ini menuntut suatu usaha yang cermat dalam perkembangan sikap, kebebasan dari ikatan keagamaan, sama halnya dengan semua pengaruh-pengaruh “luar” dan “dalam”.

Orang harus belajar agar dapat duduk bersama untuk mendengarkan gagasan-gagasan yang baru. Sesungguhnya setiap orang yang mau memperkenalkan pandangan-pandangan baru di kalangan Kelompok Bali Tradisional patut tetap waspada terhadap faktor-faktor psikologis seperti: orang yang banyak gagasan baru bia jadi memasukan banyak konfrontasi; dan pengusulan suatu yang baru apabila dilaksanakan dengan cara mendadak bisa menimbulkan oposisi dan bahkan seringkali ini membunuh kemungkinan lebih lanjut terhadap penerimaan dan untuk membuat diskusi yang wajar.

Perlu juga diingat bahwa jembatan dari “pre-cooperatives” berjalan melalui orang-orang yang memeliki beberapa gagasan yang baru dan yang tahu caranya, yang berakar secara baik dalam lingkungandan situasi sosial dari masyarakat setempat. Mereka yang berminat terhadap kondisi-kondisi sosial sosial penduduk pulau ini akan mengenal pula kebutuhan untuk menekankan bukan hanya produksi yang lebih besar tali juga pelestarian dari produk-produk yang ada .... seperti kebutuhan untuk sesuatu dalam deret Grain – Banks, dan sebagainya.

Sikap-sikap yang baru sehubungan dengan mengawetkan makanan secara wajar nampak sangat penting. Banyak orang yakin bahwaapa yang disebut masalah kekurangan pangan sungguh-sungguh merupakan suatu masalah yang timbul karena adanya masalah penyimpanan dan perawatan terhadap hasil-hasil pertanian setempat.

Kebutuhan akan peralatan-peralatan yang “mewah” seperti lemari es, freezer dan sebagainya merupakan kunci untuk dapat memecahkan masalah-masalah kekuranganpangan. Dan halini menjadi lebih memungkinkan untuk dilaksanakan mengingat telah adanya listrik sampai masuk desa dan juga adanya jalan-jalan yang lebih baik sebagai sarana kemunikasi di Bali dewasa ini.

Kebutuhan akan sumur yang layak bisa banyak memberikan bantuan bagi kondisi kesehatan dan sanitasi yang lebih baik untuk seluruh masyarakat di Bali.

Masih sangat banyak masyarakat pedesaan yang belum memiliki sumur-sumur yang memenuhi syarat kesehatan.

 

Kesimpulan.

 

Dapat dikatakan bahwa kehidupan orang Bali didasarkan pada desa dan masyarakat dengan rasa hormat secara khusus terhadap peranan para dewata.

Ethics” pada umumnya ditentukan oleh “untung-rugi” yang menyebar pada masyarakat sebagai suatu keseluruhan.

Norma umum dan tradisional terhadap “common-good” (bonum commune) mendapat posisi yang utama dalam kehidupan orang Bali. Jadi begitujuga keseluruhangagasan tentang pengetaman padi dan pengaturan subak ditentukan oleh faktor-faktor yang berpautan dengan “common good” dari semua. (kepentingan umum).

Begitu pula subak-subak dan perkumpulan-perkumpulan tani di setiap wilayah merupakan milik masyarakat secara keseluruhan, yang diatur oleh sebuah Komisi dengan sangsi-sangsi keagamaan , ritual dan pure-pure yang khusus.

 

Semua hal ini secara nyata dapat dipertimbangkan sebagai faktor-faktor kontribusi yang besar bagi semua kebanggaan dan kemasyuran yang selalu dihubungkan dengansemua aspek-aspek kehidupan yang masih terdapat pada pulau sorga ini.

 

IV.Modern Developments and trends in a world of contrast and change especially as related to Bali.

Dalam tahun 1924 Dr. Korn menerbitkan sebuah brosur yang berjudul “Bali is a port” di mana tokoh massyur tersebut mengatakan bahwa kita hidup dalam (suatu) jaman, dan dalam (suatu) dunia perobahan (age of change) dan bisa jadi perubahan ini sampai pula ke Bali melalui bermacam-macam sektor kehidupan di Bali.

Telah dikatakan bahwa pengarang buku “Revolt in Paradise”, Ketut Tantri mencatat dalam suatu kunjungan ke Jakarta sebagai berikut: “Tidak, saya tidak pernah akan berkunjung lagi ke Bali – andaikan saya akan pergi ke sana saya parti akan mati melihat perubahan-perubahan yang telah terjadi di sana”.

Memang, akhir-akhir ini banyak para pencinta Bali sangat prihatin terhadap pengaruh-pengaruh torisme di Bali dewasa ini: Mungkin banyak di antara anda telah melihat terbitan-terbitan baru seperti:

 

  • The Anthropologi Romance of Bali, Prof. S.A. Boon, Cambrige University Press – London – 1977
  • Bali in the Seventies, W.A. Hanna, South East Asia Series vol. XX – No.3.
  • Pengaruh-pengaruh Asing terhadap Kebudayaan Bali, Philip Frick Mc Kean, terbitan: Univerity Udayana – 1971.
  • Bali dalam Sentuhan Wisata, Gusti Ngurah Bagus, Universitas Udayana – Denpasar – 1975.
  • “Internal Conversion” in Contemporary Bali, C. Geertz; the Interpretalion of cultures, Baisc Books 463 – N.Y. – 1973.
  • Bali and Survival, Brien Stoddart, Asian – Australian “Hemisphere” magazine Nov/Dec., 1981.
  • Cultural Involution: Tourists, Balinese, and the Process of Modernization, P.F. Mc Kean, Brown Univerity, 1973
  • Penanggulangan Pengaruh Negatip Kebudayaan Asing terhadap Kebudayaan Bali, Universitas Udayana, Denpasar, 1977/1978.
  • Preserving Bali’s Traditional Art and Culture, “Travel Indonesia” – vol.2: No.8 – Aug.1980
  • Pengaruh Pariwiata terhadap Tata Kehidupan Masyarakat di Kuta, Universitas Udayana, Denpasar, Pengkajian Budaya, 1977.

Karangan-karangan tersebut di atas dan banyak yang lain mempunyai pendapat bermacam-macam baik-buruknya perkembangan di Bali sekarang ini.

Sebagai kesimpulan kami kutip lagi satu kalimat relevan dari pengarang P. Mc Kean dari Brown University: “Banyak pengaruh dari luar Bali tidak dapat ditolak kalau pariwisata umumdharapkan. Dan pengaruh-pengaruh internasioanl telah masuk di Bali melalui golongan luar pariwisata seperti film-film di bioskop, majalah-majalah bahkan sirkus juga. Kini Bali telah berada dalam dunia modern”.

Tidak diragukan bahwa orang-orang dan para pembuat penelitian di Bali masih dikesankan oleh “the community – cooperation – emphases” yang masih kokoh hidup di Bali. Namun bagaimana hubungan Bali dengan Dunia Modern dewasa ini, di mana tekanan-tekanan utama diberikan pada kemajuan-kemajuandi bidang multi tehnik dan mekanik? Dan hal ini pun tidak ragu lagi mempunyai relevansi juga terhadap masa depan Bali. Transisi di Bali dari sapi ke pemakaian traktor merupakan salah satu problem kecil yang ada sekarang. Karena itu adalah cukup berbobot bagi kita untuk memikirkan: “Adalah Bali sungguh-sungguh sudah siap untuk menyambut kedatangan the new computer age?”. Kiranya banyak di antara anda sudah tidak asing dengan kebiasaan majalah TIME dalam menghadirkan rubrik “man of the year” nya sebagai suatu yang khas dalam setiap tahun baru.

Dan setela hampir 60 edisi seperti itu maka untuk tahun 1982 TIME memutuskan untuk menghadirkan “The machine of the year” yakni Computer, yang begitu direvolusionisasikan dalam seluruh kehidupan jugadalam tahun yang silam.

Sungguh telah terjadi suatu kemajuan yang fantastik dalam dunia pengetahuan dan tehnologi semenjak Col – Charles Linbergh dipilih sebagai “Man of the year” dalam tahun 1928.

Banyak kemajuan-kemajuan dahsyat dalam penemuan-penemuan ilmiah dan tehnologi dipandang belum mungkin dan belum dipahami oleh warga dunia dewasa ini.

Berapa banyak warga dunia telah kenal dengan penemuan modern yang begitu fantastis seperti:

§The New Qasar – Constellations in the vast expanse of the Universe.

§Giant Space exploration of stars, planets and expiditions to the moon.

(Penyelidikan ruang angkasa secara dahsyat terhadap bintang, planet dan ekspedisi ke bulan).

§Komunikasi yang mudah dan Komunikasi melalui penggunaan satelit, juga abad transport, TV, radio dan transistor.

§Modernisasi dan Komputerisasi peralatan untuk penggunaan dalam hampir semua bidang kehidupan seperti di kantor, di sekolah, rumah sakit, pabrik, pertanian dan dalam keluarga pun permainan anak-anak (toys) sudah juga pakai dasar computer dan masih dapat dipertimbangkan sebagai suatu potensi yang besar bagi manfaat di tahun-tahun mendatang.

§Transplantasi dan penggunaan organ-organ tubuh baru – bahkan sampai dengan jantung plastik buatan dalam memecahkan problem ledakan penduduk dewasa mendatang.

§Potensi energi raksasa dalam penemuan yang baru-baru terjadi di Universitas Princeton seperti “the fusion of the atom” seperti halnya juga alat radar, Lasar beams dan sebagainya.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa dunia modern dengan segala kemajuan dalam lapangan tehnologidan modernisasi dapat mengandung banyak bahaya – banyak unsur baik negatip maupun positip.

Begitulah untuk pulau Bali juga – terutama apabila kita dapat memperhitungkan kemampuan tradisional Bali untuk adaptasi – untuk mencoba mendapatkan apa-apa yang baik.

Seperti telah dikatakan bahwa sesungguhnya turisme di Bali mempunyai efek-efek positip dan negatip bagi penduduk setempat.

Maka saya menemukan suatu harapan bagi Bali tentang apayang dinyatakan oleh seorang tokoh setempat dalam kaitannya dengan dunia pariwisata Bali yang memiliki banyak aspek-aspek positip dan negatip.

“Tak dapat disangkal lagi pariwisata telah membawa banyak hal yang positip, yang bermanfaat bukan saja untuk masyarakat di Bali tapi juga untuk Indonesia. Tidak saja hal tersebut nampak pada terciptanya banyak lapangan kerja, meningkatnya penghasilan masyarakat, tapi juga untuk perkembangan dan pemeliharaan kebudayaan Bali sendiri”.

 

Tab content 1
Tab content 2
Tuesday the 23rd. Custom text here